Saturday, December 9, 2017

Kucing Yang Terlalu Serakah

Kucing Yang Terlalu Serakah

Hari itu masih sangat pagi, matahari pun belum menampakkan diri. Hewan-hewan masih banyak yang tidur dengan pulasnya. Namun di kejauhan nampak seekor kucing berjalan tergopoh-gopoh. Ia berjalan sambil membawa seember susu yang diletakkan di punggungnya. Sesekali ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepertinya ia takut ada teman yang mengikutinya. "Syukurlah tidak ada yang melihatku," kata si kucing dalam hati.

Ketika si kucing merasa tubuhnya capek ia berniat untuk istirahat. Ia mencari tempat yang aman dari pengamatan teman-temannya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti manakala ia berjumpa dengan seekor Kancil yang sedang memeluk sebatang pohon bambu. Si kancil berkali-kali mencoba menggigit pohon bambu, seolah-olah hendak memecahkan batang bambu, namun dilepaskan lagi. Setelah usahanya gagal, si kancil nampak bersedih dan menangis. "Hu hu hu hu....gagal lagi usahaku," demikian rintih si kancil di hadapan si kucing.
Si kucing merasa iba dan ikut bersedih melihat si Kancil menangis tersedu-sedu. Lalu ia berusaha menyapanya.

"Hei, kenapa kamu bersedih dan menangis, Kancil?" tanya si Kucing.

Si Kancil tidak menjawab, bahkan tangisannya semakin menjadi-jadi. "Huuuhuuuuhuuuhuuuuu." Sebenarnya tangisan si kancil di hadapan si kucing hanya pura-pura saja. Dia berniat memberi pelajaran si kucing yang terkenal serakah dan suka mencuri susu milik teman-temannya. Si kancil jengkel setiap kali mendengar laporan akan kecurangan si kucing kepada teman-temannya.

"Wah, si kancil benar-benar bersedih, nih," pikir si kucing. Kemudian si kucing meletakkan ember yang berisi susu di bawah pohon. Dan si kancil masih memegang erat-erat batang pohon bambunya.

"Hei, Kancil...kenapa kamu bersedih ? Bolehkan aku tahu permasalahanmu?"

"Heeemmm....wah senang sekali apabila kamu bisa membantuku, Kucing," jawab si kancil.

"Iya...tapi apa masalahnya?"

"Begini, kawan," kata si Kancil mulai menyusun siasat. "Malam tadi aku mendapat batang bambu ajaib yang jatuh dari langit. Meskipun bambu ini tidak mempunyai akar namun lihatlah daun-daunnya nampak hijau segar. Pasti di dalamnya ada air ajaib di 6 ruasnya yang membuat daun-daun bambu ini nampak masih hijau segar. Pasti air ajaib itu bisa membuat kita awet muda dan sakti. Oleh karena itu, aku berusaha memecahkannya. Namun usahaku gagal. Aku sedih, kawan."

"Wah, ada air ajaib yang bisa membuat awet muda? Aku harus bisa merebutnya dari tangan si Kancil," pikir si Kucing. "Dasar si Kancil bodoh. Seharusnya membuka batang bambu dengan benda runcing seperti cakarku ini. Mana bisa memecah batang bambu dengan giginya."

" Begini saja, Cil," kata si kucing. "Bagaimana kalau batang bambumu ini aku tukar dengan setengah ember susuku?"

"Hahhh! Ditukar dengan Setengah ember susu? Ogah yaaaa....enak aja satu batang bambu ajaib ditukar setengah ember susu. Kamu tidak adil. Kamu mau enaknya sendiri. Kamu serakah," kata si Kancil sambil terus memeluk batang bambunya.

"Tapi susu ini masih segar dan lezat lho....kamu tinggal minum saja...enakkk, Cil. Daripada kamu kesulitan memecahkan batang bambu itu? Serahkan saja padaku. Kamu bisa menimati setengah ember susu ini"

"Ogaaaahhhh.....gak mauuuu....tidak sudiiii....Sekali tidak mau ya tetap tidak mau," kata si Kancil pura-pura bertahan dan menganggap bahwa batang bambunya benar-benar sakti.

"Kalau begitu...bagaimana kalau aku minta hanya setengah saja batang bambumu dan kita tukar dengan setengah ember susuku. Nah...adil kan?"

"Ogaaahhh...enak saja bambu ini dipotong separo...kesaktiannya bisa hilang, Cing!"

Si Kucing makin penasaran dengan sikap si Kancil. Dirinya harus bisa memiliki batang bambu itu bagaimanapun caranya agar dirinya bisa tetap awet muda dan sakti. Kalau dirinya sakti tentu ia bebas berbuat apa saja kepada teman-temannya. Ia bebas memiliki susu milik siapapun tanpa takut terhadap teman-temannya. Dan akhirnya ia nekat ingin menukar seember susunya dengan batang bambu yang dimiliki si Kancil.

"Begini saja, Cil. Bagaimana kalau batang bambumu itu aku tukar dengan seember susuku ini?"

Si kancil pura-pura keberatan dengan usul si kucing. Padahal dalam hati ia merasa bahwa kali ini si kucing akan menemui batunya. Kali ini si Kucing akan menerima ganjaran akan keserakahan dan kelicikannya.

"Kalau itu maumu, aku sih setuju-setuju saja, Cing. Tapi kamu ikhlas nggak menukar susumu dengan batang bambu ini?" tanya si Kancil.

"Ikhlas, Cil. Ayo mana batang bambumu!" kata si kucing tidak sabar ingin memiliki batang bambu milik si kancil. Dan ia akan segera memecahkannya agar bisa segera meminum air ajaib yang ada di tiap ruasnya. "Aku akan menjadi Kucing Sakti dan senantiasa awet muda. Asyiiikkkk," kata si kucing senang.

Kemudian si kancil melepaskan batang bambunya. Setelah Ia meraih seember susu milik si Kucing, lalu ia pergi meninggalkan si kucing sendirian.

"Horeeee....aku akan menjadi kucing sakti.iiiii!" teriak si kucing. Kemudian ia mengeluarkan cakar-cakarnya. Batang bambu yang ada dihadapannya dicakar-cakar berkali-kali agar bisa pecah. Ia terus berusaha memecahkannya. Akhirnya, setelah dengan perjuangan yang keras ia berhasil memecahkan batang bambu di hadapannya. Namun ternyata air sakti yang diharap-harapkannya ternyata tidak ada. Ia hanya mendapati ruas-ruas bambunya kosong tidak ada apa-apanya. Sedangkan daun bambu yang masih hijau disebabkan pohon bambu masih baru dipotong.

"Haahhhh! Sialan...mana air sakti itu!!???" teriak si kucing.

"Dasar si Kancil pembohong...aku telah ditipunya. Aku telah ditipunya....," kata si Kucing sambil bergegas lari mengejar si kancil yang telah membawa seember susunya. 


Kisah Keledai Dan Kuda

Kisah Keledai Dan Kuda

Disuatu siang yang terik, Pak pedagang berjalan menyusuri perbukitan hendak pulang dari pasar. Di belakangnya berjalan seekor Keledai dan seekor Kuda peliharaannya. Mereka memang biasa diajak ke pasar untuk mengangkut dagangan atau belanjaan dari pasar.

Tampak si Keledai sudah kelelahan, dia berjalan sangat pelan karena di punggungnya penuh dengan barang bawaan yang tampaknya cukup berat baginya. "Kuda..!!! Tolong.... gantian bawakan barang ini, saya sudah sangat lelah dan tidak kuat lagi". keluh si Keledai kepada si Kuda. "Tidak!" kata si Kuda dengan tegas, dia menghentak-hentakkan kakinya sambil terus berjalan seolah mengejek. "Tolonglah!" pinta si Keledai, ia tersungkur karena kelelahan. Ia berusaha untuk berdiri dengan barang bawaan yang berat di punggungnya. "Tolong ambil beberapa bebanku saja, atau aku bisa mati karena beban yang terlalu berat ini." Si kuda menjawab dengan meledek, "Itu bukan tugasku, kenapa aku harus mengangkat barang bawaanmu itu?"
Mereka lalu tetap berjalan, berbaris di jalan kecil yang naik turun di atas pegunungan. Si kuda berjalan dengan nyaman sambil memakan rumput-rumput yang menghijau. Tetapi si Keledai berjalan dengan kepala tertunduk, ekornya bergoyang-goyang mengusir kumpulan lalat yang mengganggunya. Terengah-engah ia berusaha berjalan dengan beban yang begitu berat di punggungnya. Tiba-tiba keledai itu jatuh tersungkur untuk yang kedua kalinya. Lututnya terluka, tertindih di bawah tubuhnya yang terjerembab di tanah.

Pak Pedagang yang berjalan beberapa langkah di belakangnya, melihat apa yang terjadi dan dengan cepat menghampiri Keledai itu. Ia melonggarkan tali yang mengikat beban si Keledai dan dengan cepat meletakkannya di atas punggung si Kuda. Ia lalu mengikat kaki-kaki keledai yang jatuh itu menjadi satu dan lalu menaikkan keledai di atas punggung si Kuda. "Benar-benar Apes saya!" si kuda terengah-engah sambil menggerutu. "Aku tidak kuat lagi mengangkat beban dan tubuh keledai sekaligus! Jika aku tahu bakal begini jadinya, aku tadi pasti menolongnya... Mengangkat barang bawaan saja tanpa ditambah tubuh si jelek Keledai ini.... Huuuhhh...!! Tapi bagaimana aku bisa tahu akan begini jadinya?"
Pesan Moral Dongeng Kisah Keledai dan Kuda adalah : Penyesalan selalu datang terlambat, Berbuat baik tidak akan merugikan kita. dengan berbuat baik, bBisa jadi kita bisa memperoleh kebaikan yang lain atau bisa jadi kita terhindar dari hal buruk. Menunda kebaikan bisa jadi akan mendatangkan hal buruk pada kita. Seperti halnya si Kuda, ia tidak mau menolong si keledai akibatnya dia bukan hanya harus mengangkut barang bawaan si keledai, tapi dia juga harus mengangkut tubuh si keledai diatas punggungnya karena si keledai sudah tidak bisa berjalan. 

Bangau Pemalas

Bangau Pemalas

Suatu hari ada seekor anak bangau yang pemalas, kerjanya hanya tidur-tidur di bawah pohon yang rindang, lain sekali dengan anak bangau yang lainnya yang ingin sekali terbang seperti induk mereka. Anak bangau yang malas ini malah asyik dengan dirinya sendiri, malah dia tidak menghiraukan sama sekali ajakan temannya yang sibuk ingin belajar terbang. Si anak bangau pemalas ini sehari-harinya hanya memakan makanan yang diberikan induknya tapi dia sangat malas untuk mencari makan sendiri.

Hingga pada akhirnya si anak bangau yang pemalas ini datang ke salah satu anak bangau yang sedang belajar terbang. "Hei teman, kenapa kau sangat antusias sekali ingin terbang seperti induk kamu?" tanya si anak bangau pemalas.
 "Ya pastinya ingin bisa terbang tinggi dan bisa menembus awan yang putih diatas itu" kata si anak bangau lainnya.

 (Dongeng anak dan cerita anak yang asli dan original hanya di http://www.dongenganakindonesia1.com)

"Memangnya apa sih istimewanya awan putih diatas itu?" tanya si anak bangau pemalas.

"Awan itu indah sekali, jika kita terbang diantara awan itu, maka kita akan bisa melihat daratan dari atas dengan sangat indahnya" kata si anak bangau tadi.

"Memangnya kamu kenapa tidak mau belajar terbang?, apakah kamu sudah bisa?" tanya anak bangau itu lagi kepada si anak bangau pemalas.

"Aku bukannya sudah bisa terbang, aku malas saja, karena aku khan sudah punya sayap, sudah pasti aku bisa terbang nantinya" Alasan si anak bangau pemalas ini kepada temannya.

"Oke baiklah kalau begitu, kalau kamu yakin, tidak apa-apa, tapi induk ku bilang kita harus melatih sayap-sayap ini agar bisa terbang dengan sangat cepat ketika kita berada di air menangkap ikan, sudah ya aku mau latihan lagi" kata si anak bangau yang belajar terbang itu.

Si anak bangau yang rajin belajar terbang tadi meninggalkan si anak bangau yang pemalas.
"Hmm..kalau terbang juga aku pasti bisa, khan aku sudah punya sayap...bikin capek saja latihan terbang segala" gumam si anak bangau pemalas tadi.

Pada suatu ketika, si anak bangau pemalas ini sedang berjalan di rawa, tiba-tiba ada sekumpulan pemburu liar yang berada dari kejauhan. Mereka ternyata sedang berburu bangau yang ada di rawa tersebut.

Si anak bangau pemalas ini kaget dan gugup, teman-temannya yang sudah berlatih terbang, dengan sigap mengambil ancang-ancang untuk terbang menyelamatkan diri mereka dari pemburu liar tadi.

(Dongeng anak dan cerita anak yang asli dan original hanya di http://www.dongenganakindonesia1.com)

Akhirnya si anak bangau pemalas ini ditangkap oleh pemburu yang hendak membawanya ke kota untuk di jual. Nasib malang si anak bangau pemalas, dia tidak bisa menyelamatkan diri karena dia tidak mau belajar terbang seperti kawan-kawannya.

Demikian dongeng anak cerita anak bangau yang pemalas ini, semoga kita bisa mengambil hikmahnya dari dongeng diatas, bahwa walaupun kita sudah diberikan anggota tubuh oleh Tuhan YME. kita harus tetap mau belajar agar kelak apa yang kita pelajari di dunia ini bisa bermanfaat bagi kita dan bagi orang lain.


Friday, December 8, 2017

Kisah Dua Orang Sahabat

Tags

Kisah Dua Orang Sahabat 

Dahulu kala, ada dua sahabat bernama Fong dan Suta. Kedua sahabat itu sama-sama memiliki fisik yang cacat. Fong mengalanni kebutaan, sedangkan Suta tak bisa berjalan.
Fong selalu menggendong Suta ke mana pun mereka pergi. Suta selalu menjadi penunjuk jalan. Suatu hari, mereka pergi ke dalam hutan. Mereka ingin bertualang. Fong dengan setia menggendong Suta.
Hingga di tengah hutan, Suta melihat sebuah lubang di salah satu pohon. Suta mengira itu adalah sarang burung.
"Kau panjatlah pohon ini. Ada lubang di sana. Ambilah burung yang ada di sana agar nanti kita bisa makan dagingnya." ucap Suta.
Fong langsung naik ke atas pohon. Setibanya di lubang pohon, ia memasukkan tangannya ke
dalam lubang itu. Olala... rupanya yang ia dapatkan adalah seekor ular.
"Temanku Suta, apakah ini yang disebut burung?" tanya Fong sambil memegang seekor ular.
Suta tak menjawab. Ia takut Fong akan terjatuh jika tahu itu adalah ular. Tiba-tiba, ular itu menyemburkan bisanya ke mata Fong. Ajaib, mata Fong bisa melihat kembali. ia melihat ular yang dipegangnya.
"Kau membohongiku, Suta! Rupanya ini adalah sarang ular," seru Fong. Fong melemparkan ular itu ke bawah, hampir mengenai Suta.
Melihat ular itu di depan matanya, Suta sungguh ketakutan. Ia berdiri dan lari terbirit-birit. Ia tak menyadari bahwa ternyata ular itu telah membuat dirinya berjalan, dan bahkan bisa berlari.
Saat menyadari hal itu, mereka berdua sangat bahagia. Fong tahu, Suta tak mungkin berniat mencelakakannya dengan membiarkannya ke sarang ular.
"Maafkan aku sahabatku. Aku pikir itu sarang burung, tapi rupanya sarang ular," ujar Suta.
"Ya, aku tahu itu. Aku hanya panik saat aku tahu bahwa yang aku pegang adalah seekor ular," jawab Fong.
"Semua itu justru menyembuhkan kita. Kau kembali bisa melihat, dan aku sekarang bisa berjalan," seru Suta.
Mereka berdua tertawa bersama. Sungguh persahabatan yang indah. Mereka pun kembali ke rumah mereka. Tapi, kini Fong tak lagi menggendong Suta. Mereka berjalan beriringan, bersama. Bahkan beberapa kali mereka menari senang di antara pepohonan.

Pesan moral Cerita Dongeng Dunia Persahabatan dari adalah sahabat akan selalu ada saat suka maupun duka.

Kisah Kupu-Kupu

Kisah Kupu-Kupu

  
Di salah satu desa para nelayan, hiduplah seorang wanita tua. Wanita itu hidup sendirian di rumahnya. Ia sangat menyukai bunga. Ia memiliki kebun bunga yang indah. Bunga-bunga itu setiap hari mekar.
Wanita tua itu senang merawat kebun bunganya. Ia juga sangat baik. Siapa saja yang meminta bunga padanya, pasti akan dia beri. Para nelayan menyukai wanita tua itu. Tak jarang para nelayan datang ke rumah perempuan tua itu. Mereka membawa banyak ikan untuk perempuan tua tersebut.
"Aku ingin menukar ikan-ikan yang aku dapatkan dengan sekuntum mawar yang kau tanam," ucap salah satu nelayan.
Wanita tua lalu memberikan beberapa kuntum mawar. Alangkah senangnya hati nelayan itu. Ia pulang dengan membawa beberapa tangkai mawar.
Pada malam hari, rumah wanita tua terlihat terang benderang. Para nelayan percaya bahwa wanita tua itu adalah seorang penyihir. Tentunya penyihir yang baik hati. Bahkan beberapa nelayan pernah melihat seorang perempuan cantik di rumah wanita tua itu.
"Di sana ada perempuan cantik dan beberapa manusia kerdil." ucap salah satu nelayan.
Meskipun begitu, penduduk tetap menyukai wanita tua itu. Toh wanita tua itu sangat baik kepada mereka. Hingga datanglah sepasang suami istri ke kampung nelayan. Mereka berdua sangat menyukai keindahan. Namun, mereka memiliki tabiat buruk. Mereka suka sekali mengejek hal yang dianggapnya tak indah.
"Aku mendengar ada rumah perempuan tua yang rumahnya dipenuhi dengan mawar yang indah. Apakah kau tahu, di mana rumahnya?" tanya sang suami kepada seorang nelayan.
Nelayan itu menunjukkan rumah wanita tua. Benar saja, di sana ada banyak sekali mawar yang tumbuh dengan indah.

"Indah sekali mawar-mawar itu, Suamiku. Aku ingin memetiknya beberapa tangkai." ujar sang istri.
"Petiklah semaumu," jawab suaminya. Mereka bahkan tak meminta izin terlebih dahulu kepada wanita tua pemilik rumah.
Sepasang suami istri itu berhasil memetik banyak bunga di sana. Beberapa saat kemudian, wanita tua keluar dari rumahnya. Melihat bunga miliknya hampir habis, wanita tua itu pun marah.
"Berani-beraninya kalian memetik bungaku tanpa izin." seru si wanita tua.
Sepasang suami istri itu menoleh. Melihat wanita tua, mereka justru menertawakannya.
"Bunga mawar ini tak cocok untukmu yang sudah tua," balas istrinya.
Wanita tua itu semakin marah. Ia lalu mengambil tongkat sihirnya. Ia menyihir sepasang suami istri itu menjadi kupu-kupu. Itulah asal-usul kupu-kupu.

Pesan moral: Kisah Kupu-Kupu adalah hormati selalu orangtua. Jangan sampai berkata kasar dan melukai hatinya.

Asal Mula Nama Kota Balikpapan

Asal Mula Nama Kota Balikpapan

Menurut cerita rakyat yang diceritakan secara turun temurun di kalangan masyarakat Kalimantan Timur, sejak tahun 1700 an di tanah Pasir sudah ada sistem pemerintahan kerajaan yang sangat teratur. Di bawah pemerintahan kerajaan tersebut, rakyat hidup sejahtera. Kekuasaan raja yang memimpin pada waktu itu sangat luas, membentang hingga ke bagian selatan. Daerah tersebut merupakan sebuah teluk yang kaya akan hasil laut, dan pemandangan disana pun sangat indah. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di sepanjang teluk hidup sebagai nelayan dan petani yang sangat makmur.

Sultan yang memerintah kerajaan pada waktu itu adalah Sultan Aji Muhammad. Sultan mempunyai seorang putri bernama Aji Tatin. Putri tersebut menikah dengan Raja Kutai. Kepada ayahnya, Aji Tatin meminta warisan untuk masa depannya. Sultan Aji Muhammad kemudian memberikan wilayah teluk yang saat itu memang belum memiliki nama.

Pada suatu hari, ketika orang-orang yang bertugas mengumpulkan upeti dari rakyat untuk Aji Tatin sedang naik perahu, datanglah angin topan yang dahsyat. Upeti dari rakyat yang sedang mereka bawa saat itu berupa papan dengan jumlah yang sangat banyak. Karena merasa tidak mampu untuk melawan badai, para pendayung perahu tersebut berusaha merapat ke pantai. Namun, karena gelombang yang sangat besar dan angin topan tersebut, perahu pun terhempas ke sebuah karang. Alat untuk mendayung (tokong/galah) pun patah dan perahu pun karam. Panglima Sendong yang memimpin rombongan tersebut dan semua anak buahnya meninggal.

Jadi, menurut legenda atau cerita rakyat Kalimantan Timur ini, nama Balikpapan diambil dari kejadian saat perahu yang berisi papan terbalik karena diterpa badai. Sedangkan pulau karang yang tertabrak oleh perahu hingga karam kini dinamakan Pulau Tukung.

 

Thursday, December 7, 2017

Singa Dan Gembala

Singa Dan Gembala

Seekor singa yang sedang berjalan-jalan di hutan tiba-tiba menginjak duri yang kemudian menancap di kakinya. Tidak lama kemudian seorang Gembala lewat. Si Singa menunduk, dan menggoyangkan ekornya perlahan, sambil menunjukkan kakinya yang tertancap duri itu, seakan-akan ingin berkata "Aku mohon, tolonglah aku." Gembala yang pemberani itu lalu mendekat dan memeriksa kakinya. Dia menemukan duri yang menancap itu, lalu mencabutnya dengan hati-hati. Si Singa merasa lega karena duri yang menyakitkan itu sudah hilang. Dia lalu melangkah kembali ke dalam hutan.

Beberapa bulan kemudian, si Gembala mendapatkan masalah. Dia ditahan karena dituduh melakukan kejahatan yang sebenarnya tidak pernah dilakukannya. Dia lalu akan dihukum mati, dengan cara "dimasukkan ke kandang singa yang ganas." Tapi ketika si Gembala dimasukkan ke dalam kandang singa, singa itu tidak menyerangnya. Singa itu bahkan mendekati si Gembala, dan menaruh kakinya di pangkuannya. Ternyata singa itu adalah si Singa yang pernah ditolongnya dengan mencabut duri dari kakinya.

Kejadian yang aneh itu beritanya menyebar ke seluruh kerajaan. Bahkan, sang Raja juga mendengar tentang kejadian itu. Dia lalu memerintahkan supaya si Singa dilepaskan kembali ke hutan, dan si Gembala dibebaskan dari hukuman.

Pelajaran yang dapat diambil dari dongeng ini: Kebaikan akan mendapatkan kebaikan sebagai balasannya.
Dongeng untuk anak ini diadaptasi dari fabel klasik karya Aesop berjudul "The Lion and the Shepherd." Dongeng pendek ini diceritakan kembali dan ditulis oleh Ayunda.


Tikus Dan Singa

Tikus Dan Singa

 Seekor singa sedang tidur. Tiba-tiba, ada seekor tikus yang lewat di depan wajahnya, dan membuatnya terbangun. Singa itu pun lalu dengan cepat menangkap si Tikus dan hendak membunuhnya. Si Tikus lalu memohon supaya diampuni. "Ampuni aku," kata si Tikus. "Jika kamu mau mengampuni aku, suatu saat nanti akan kubalas kebaikanmu." Singa tertawa, lalu melepaskan tikus itu.

Beberapa hari kemudian, saat sedang berjalan-jalan di hutan, Singa tertangkap oleh sekelompok pemburu, yang kemudian mengikat dia dengan tali-tali yang kuat. Para pemburu itu meninggalkan dia di sana, untuk diambil keesokan harinya, saat tenaganya sudah habis dan dia tidak bisa melawan lagi. Si Singa berusaha membebaskan diri, tapi tidak bisa karena tali-tali itu terlalu kuat. Dia pun mengaum untuk meminta tolong. Si Tikus mendengar auman si Singa dari kejauhan, lalu datang untuk membantunya. Dia menggigiti tali-tali yang mengikat Singa sampai putus.

Setelah si Singa terbebas dari perangkap para pemburu, si Tikus lalu berkata kepadanya. "Dulu kamu tertawa saat aku berkata bahwa suatu saat aku pasti akan membalas kebaikanmu. Sekarang sudah terbukti bukan? Aku, seekor tikus, bisa menyelamatkan kamu, seekor singa!"

Pelajaran yang dapat diambil dari dongeng ini: Kita tidak boleh meremehkan orang lain. Mungkin saja suatu saat nanti kita akan membutuhkan pertolongan darinya.


Harimau Bodoh Dan Domba Cerdik

Harimau Bodoh Dan Domba Cerdik

Pada suatu ketika, seekor Domba jantan sedang berjalan-jalan di padang rumput. Dia mencari rumput yang enak untuk dimakan. Tidak lama kemudian, dia melihat ada hutan di dekat padang rumput itu. Karena ingin mencari tumbuh-tumbuhan selain rumput yang enak untuk dimakan, dia pun masuk ke hutan itu. Tiba-tiba dia bertemu dengan seekor Harimau. Harimau itu sangat gembira, karena dia akan segera mendapatkan makanan yang lezat. Si Domba, yang sangat ketakutan, kemudian mengajak Harimau itu berbicara.
"Siapa namamu?" tanya si Domba.
"Aku Harimau! Siapa kamu?" Harimau balik bertanya.
"Namaku Domba Yang Hebat" jawab si Domba, walaupun sebenarnya dia sangat gemetaran.
"Apa itu yang ada di kepalamu?" tanya Harimau lagi.
"Oh, itu tombak dan pedangku" jawab Domba.
"Dan apa itu yang bergantung di antara kaki belakangmu?" Harimau bertanya lagi.
"Itu bumbu-bumbu yang aku bawa untuk memasak daging harimau sebelum aku memakannya." jawab Domba.
Harimau sekarang sangat ketakutan. Dia lalu berlari pergi secepat yang dia bisa, dan bersyukur karena dia masih hidup.
Ada seekor rubah yang melihat Harimau lari terbirit-birit. Dia kemudian bertanya, "Ada apa denganmu? Kenapa kamu lari ketakutan?"
"Domba jantan itu! Dia hampir saja membunuhku!" jawab Harimau. Dia bersenjatakan pedang dan tombak!"
Rubah yang pintar itu tertawa, lalu berkata, "Bagaimana mungkin seekor domba jantan bisa membunuh seekor harimau? Kamu pasti sudah dibodohi oleh domba itu. Ayo kita kesana dan kita beri dia pelajaran."
Tapi Harimau berkata "Tidak, kamu nanti pasti akan lari setelah melihat domba itu, dan meninggalkan aku sendiri di sana. Tidak, aku tidak mau."
"Aku tidak akan lari. Kalau kamu tidak percaya, kita ikat saja diri kita berdua dengan sebuah tali. Jadi, bahkan jika aku ingin lari pun aku tidak akan bisa" jawab Rubah.
Harimau setuju dengan usul si Rubah. Mereka kemudian mengikat leher mereka menjadi satu dengan menggunakan seutas tali, dan pergi berjalan mencari si Domba. Mereka menemukan si Domba sedang santai sambil makan tumbuh-tumbuhan yang lezat.
Ketika si Domba melihat si Harimau, dia berteriak, "Aha! Akhirnya kamu datang juga! Aku sudah sangat lapar! Kamu akan menjadi makanan yang lezat untukku!"
Harimau yang bodoh ketakutan mendengar perkataan si Domba. Dia lalu berbalik dan lari sekencang-kencangnya. Si Rubah berteriak-teriak meminta Harimau untuk berhenti berlari, karena dia ikut terseret. Tapi Harimau tidak mendengarnya, dan terus berlari, sampai akhirnya si Rubah mati karena terseret-seret sangat jauh melintasi hutan itu. "Rubah yang bodoh!" pikir Harimau yang bodoh itu, "Aku hampir saja mati gara-gara dia!".


Fabel Buaya Dan Burung Penyanyi

Buaya Dan Burung Penyanyi

Suatu hari ada seekor buaya dan burung penyanyi. Mereka hidup dihutan dan bersahabat sangat akrab. Suatu ketika burung penyanyi bernyanyi dihadapan buaya dengan bertengger di hidungnya. Karena sangat asiknya mereka bernyanyi dan mendengarkan suara merdu.
Tak lama kemudian buaya menguap dan membuka mulutnya lebar lebar. Burung penyanyi yang sedang bertengger di hidung buaya terpleset masuk ke dalam mulut buaya. Lalu buaya heran "kemana burung penyanyi?". Buaya mencari burung penyanyi di semak semak tetapi tetap tidak ada.
Lalu saat buaya sedang mencari burung penyanyi, senandung merdu keluar dari mulut buaya. kata buaya "indah sekali suaraku " gumam buaya. Lalu buaya menguap dan membuka mulut lebar lebar. Hampir saja buaya menutup mata ada seekor burung penyanyi yang sedang bertengger di hidungnya.
Kata burung penyanyi dengan marah " kau sangat tidak punya hati buaya , kau biarkan aku masuk ke mulutmu. sampai aku bernyanyi, tapi kau tidak tahu aku ada di dalam mulutmu?". Kata buaya "aku sama sekali tidak tahu kalau kau masuk ke mulutku , jadi suara yang indah itu bukan suaraku....?".
Burung penyanyi berkata "iya , itu suaraku bukan suaramu , kau kan tidak bisa bernyanyi sepertiku suaramu itu tidak enak didengar". Buaya menangis setelah mendengar ucapan burung penyanyi. Lalu burung penyanyi merasa iba karena apa yang dikatakannya menyinggung perasaan buaya.
Lalu burung penyanyi mencari cara untuk menghibur buaya. Burung penyanyi berkata " tenang buaya , kita akan menyanyi bersama". Kata buaya" bagaimana caranya aku kan tidak bisa bernyanyi sepertimu?".Kata burung penyanyi " mudah saja buatlah gelembung gelembung air lalu aku bernyanyi".
Setelah itu buaya memasukkan mulutnya ke dalam air dan membuat gelembung gelembung air sedangkan burung penyanyi bertugas untuk bernyanyi. Suara itu sangat pas dan sangat enak di dengar. dan buaya melakukan seperti itu setiap hari dan mereka menjadi sahabat yang setia.


Dongeng Fabel Si kancil, Tikus Dan Harimau Yang Bodoh

Dongeng Fabel Si kancil, Tikus Dan Harimau Yang Bodoh

Suatu hari di tengah hutan terlihat seekor tikus yang sedang asyik bermain. Ia berkeliling-keliling dan bernyanyi dengan sangat riang. Akan tetapi, si tikus tidak sadar kalau iya bermain sudah sangat lalu jauh dari rumah.
Setelah sangat jauh dari rumahnya, si tikus pun menyadari bahwa dia bermain sudah sangat jauh. Si tikus langsung memutuskan untuk kembali pulang kerumahnya, dan akan tetapi karena si tikus terlalu jauh masuk ke dalam hutan akhirnya ia pun tersesat di dalam hutan.

Namun ,saat si Tikus dalam kebingungan Mencari jalan untuk pulang kembali ke rumahnya, dia malah kesasar sampai ke sebuah sarang Harimau. Ia pun melihat harimau jantan itu sedang tertidur lelap, terlihat di muka si tikus sangat ketakutan. Karena kepanikan nya melihat harimau yang sedang tidur dia pun berlari dan tidak sadar telah menginjak kaki si harimau itu.

Si harimau pun terbangun dari tidurnya dan terlihat sangat marah karena waktu istirahatnya telah terganggu. Ditangkap lah si tikus oleh harimau itu, dicengkeram nya si tikus dengan kuku-kuku yang tajam.
Si tikus pun berusaha sekuat tenaga untuk bisa lepas dari cengkraman kuku kuku harimau itu sambil berteriak-teriak " lepaskan aku tuan Harimau, lepaskanlah aku. Aku sungguh tidak sengaja telah mengganggu istirahat mu. Tolong tuan Harimau lepaskan aku."

" aku tidak akan Melepaskanmu, kau sudah ganggu aku sedang beristirahat. Kau tahu kan sifatku? Aku sangat marah jika ada binatang lain mengganggu istirahat ku." jawab siHarimau

Tidak jauh dari tempat itu nada si kancil yang sedang minum di tepian sebuah sungai. Kancil pun mendengar suara teriakan si tikus, dan ia pun mencari sumber suara itu. Setibanya si kancil terkejut, melihat seekor tikus dalam cengkraman Harimau dan sedang memohon minta dilepaskan. Sebenarnya si kancil merasa sangat takut melihat si harimau yang besar dan kuat itu, akan tetapi dia sangat kasihan melihat nasib si tikus sudah siap dimangsa oleh si harimau.

Dan pada akhirnya, si kancil memberanikan diri untuk mendekati dan menghampiri mereka. Terlihat raut muka si tikus sangat senang melihat kancil datang. Siti ku sangat berharap bahwa kancil dapat menolongnya. Berpura-pura tidak tahu si kancil pun menyapa kepada Harimau dan tikus.
" hey, kalian berdua sedang apa? Sepertinya asik sekali kalian bermain. Bolehkah aku ikut?" tanya si kancil

" hahaha, kancil, kau sangat berani datang ke sini. Sini kau kancil kebetulan perutku sekarang sangat lapar." kata si harimau

" hahaha... Hahaha harimau, kenapa aku harus takut kepadamu harimau. Kau tahu, aku adalah Raja di dalam hutan ini. Mana mungkin aku takut kepadamu Harimau. Aku bisa mengalahkan semua penghuni hutan ini." jawab Si Kancil dengan gaya bijaknya

" apa benar yang kau katakan, kancil?" tanya Harimau dan harimau pun merasa penasaran

" hai Harimau, kau tidak percaya? Jika kau tidak percaya kalau aku adalah raja di hutan ini, kau bisa tanyakan langsung pada penasehat ku." tukas Si Kancil

" hahaha... Penasehat??? Hahaha, di mana kancil aku bisa menemui penasehat mu itu....?" tanya si harimau yang makin mulai penasaran

" hey Harimau, kau pura-pura tidak tahu saja. Itu sekarang yang kau cengkram adalah penasehat yang paling aku percaya. Disini di dalam hutan ini ia adalah penasehat yang sangat disegani. Jika kau melukai penasehat ku dan sampai terjadi apa-apa dengan nya, aku benar-benar tidak akan memaafkanmu Harimau." jawab Si Kancil sambil berlaga dengan tegas


Si harimau pun mulai terpengaruh dengan ucapan ucapan Si Kancil, penghuni baru yang belum lama tinggal di dalam hutan itu. Jadi memang benar-benar tidak tahu tentang semua hal di dalam hutan ini termasuk siapa raja di dalam hutan ini.

" hei kau tikus, benarkah apa yang dikatakan kancil? Bahwa dia adalah seorang raja di dalam hutan ini." tany harimau kepada si tikus

Akhirnya, si tikus menyadari bahwa Si Kancil telah berbohong untuk menolongnya dan si tikus pun mengikuti drama yang sedang dimainkan oleh si kancil.
" iya benar sekali, kancil memang adalah raja di dalam hutan ini, dan aku adalah penasehatnya. Di hutan ini kancil sangat ditakuti dan disegani oleh semua binatang di dalam hutan ini. Jika kau tidak percaya kau bisa tanya langsung kepada binatang-binatang di dalam hutan ini." jawab si tikus

Harimau pun mulai merasa takut mendengar jawaban dari si tikus, akan tetapi si harimau tidak menunjukkan rasa ketakutannya.
" hahaha... Tikus, kancil... Aku tidak percaya dengan omong kosong kalian. Coba kalian buktikan jika apa yang kalian katakan itu memang benar?" tanya Harimau
Kancil pun terlihat bingung, dia terdiam sejenak di dalam hati kecilnya ia berkata bagaimana ia bisa membuktikan. Namun karena kecerdikannya ia berusaha Tetap tenang di depan harimau, meskipun sebenarnya dia merasa sangat takut.

" kau masih tidak percaya kepada ku Harimau? Kau perlu bukti? Baiklah Harimau, beberapa hari yang lalu aku pernah mengalahkan Harimau besar sepertimu, aku sangat marah karena Harimau itu sangat kurang ajar kepadaku dan aku masih menyimpan kepalanya di dalam sumur dipinggir sungai. Untuk dijadikan peringatan bagi hewan-hewan lain tegar tidak bersikap kurang ajar kepadaku di dalam hutan ini. Jika kau mau bukti, baiklah aku akan menunjukkannya kepadamu Harimau. Dan kau tidak boleh menyesal" kata si kancil sambil sedikit mengeluarkan kata-kata ancamannya

Mendengarkan kancil berbicara, harimau pun sudah mulai merasa ketakutan
" baiklah kancil, coba kau tunjukan dimana kau simpan kepala harimau malang itu. Akan tetapi kancil, jika kau menipuku kau akan menjadi makan siangku" kata Harimau

Mendengar gertakan si harimau si tikus pun merasa ketakutan namun ya tahu akan kecerdikan Si Kancil, dan si kancil pun mengedipkan mata kepada si tikus.

Akhirnya kancil membawa harimau itu ke tepi sungai. Mereka menuju sumur di pinggir sungai dan sumur itu sangat gelap dan dalam. Namun, karena pantulan cahaya matahari yang membuat air bening di dalam sumur itu itu berkilau seperti cermin.

" kita sudah sampai di tempat yang aku maksud harimau, sekarang kau bisa membuktikannya sendiri. Kau coba lihat sendiri di dalam sumur itu. Aku menyimpan kepala harimau malang itu di dalam sumur itu." kata kancil

Si harimau pun merasa sangat penasaran, tapi hatinya sangat takut. Ia pun memberanikan diri untuk melihat ke dalam sumur itu. Ia hanya mengintip saja karena sebenarnya hatinya sangat takut. Tetapi setelah ia membuka mata dan melihat kepala harimau di dalam sumur itu benar-benar ada dia sangat terkejut. Di dalam hatinya harimau itu berkata " ternyata, apa yang dikatakan oleh si kancil memang benar." si harimau sangat ketakutan, dia pun langsung melarikan diri berlari dengan cepat karena takut nasibnya seperti harimau Malang yang pernah dikalahkan oleh kancil.

Kancil dan si tikus pun tertawa puas melihat harimau berlari ketakutan begitu cepat, mereka sudah berhasil mengelabui Harimau yang sombong itu.

Sebenarnya, di dalam sumur itu tidak ada apapun selain air yang sangat bening seperti kaca. Hanya saja karena Harimau bodoh, harimau tidak menyadari bahwa kepala harimau yang ada di dalam sumur itu adalah bayangannya sendiri.


Keledai Pertama Di Cina

Keledai Pertama Di Cina

Dahulu, tak ada satu pun keledai di Cina. Hingga seorang saudagar membawanya dari negeri seberang. Pedagang itu merawat keledai dengan baik. Setiap hari, ia selalu memberikan makanan terbaik kepada keledai itu Namun, lama-kelamaan ia berpikir bahwa keledai itu sama sekali tak berguna. Selama ini si Pedagang selalu bekerja seharian, sedangkan keledai itu hanya menunggu makanan yang enak darinya. Lagi pula, terkadang pedagang itu juga terlalu lelah untuk merawat keledai itu.
"Lebih baik kulepaskan kau ke hutan," ujar pedagang itu.
Pedagang itu lalu melepaskan keledainya ke hutan. Di hutan, si keledai terus berjalan. Kadang-kadang ia makan rumput yang ada di sekitarnya.
Seekor harimau melihat keledai itu. Ia merasa takut, sebab sebelumnya tidak pernah melihat binatang seperti itu.
"Mungkin saja itu adalah titisan dewa," ujar Harimau.
Harimau terus saja mengawasi keledai. Ia sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Ia penasaran, seperti apa sebenarnya hewan yang Baru ia lihat itu.
"Sebenarnya dari mana datangnya binatang aneh itu?" gumam Harimau.
Tidak lama kemudian, Keledai meringkik. Harimau tertawa mendengar ringkikan Keledai. Ia merasa itu adalah ringkikan binatang yang lemah.
"Lebih baik aku dekati dia," ujar Harimau.
Harimau mengaum dengan suaranya yang ganas. Keledai kaget melihat Harimau. Bahkan, ia ketakutan. Tetapi, Keledai tak lari. Ia yakin, kalau dirinya lari, Harimau akan tetap mengejarnya.
Harimau mulai mendekati Keledai. Ia bahkan mulai menyenggol tubuh Keledai.
"Rupanya kau hanya hewan biasa," ujar Harimau.
Keledai marah. Ia pun menendang Harimau. Namun, Harimau malah tertawa.
"Aku pikir kau binatang yang kuat. Rupanya hanya tubuhmu saja yang besar. Tetapi, kau adalah hewan lemah," ucap Harimau.
Keledai mendengus kesal. Ia lalu pergi dari hadapan Harimau. Begitu setiap harinya. Hingga Harimau mengetahui, bahwa dirinya ternyata jauh lebih kuat dari Keledai.
Pesan moral dari adalah jangan takut untuk mengenal hal baru. Belajarlah agar tahu banyak



 

Cerita Rakyat Legenda Keong Mas

Cerita Rakyat Legenda Keong Mas

Dahulu kala, ada seorang raja yang sangat arif dan bijaksana. Raja memiliki dua putri. Putri pertama bernama Candra Kirana, dan adiknya bernama Dewi Galuh. Dua putri itu sangat cantik, tetapi memiliki watak yang berbeda. Candra Kirana sangat baik dan tidak sombong sehingga ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Sebaliknya, Dew Galuh jahat dan angkuh. Ia sering kali menghina rakyatnya sehingga rakyat tak menyukai Dewi Galuh.
Suatu hari, Raja memanggil Candra Kirana. Raja ingin agar Candra Kirana segera menikah dengan Pangeran lnu Kertapatih. Candra Kirana sangat senang. Ia menerima lamaran Pangeran lnu Kertapatih.Tetapi, Dewi Galuh juga menyukai Pangeran lnu Kertapatih. Ia ingin Pangeran lnu Kertapatih menjadi suaminya.
Dewi Galuh lantas pergi ke rumah penyihir. Ia meminta agar penyihir itu menyihir Candra Kirana menjadi sebuah keong.
Saat sedang asyik main di pantai, Candra Kirana ditemui oleh penyihir. Penyihir itu langsung menyihir Candra Kirana menjadi seekor keong emas. Sungguh sedih hati Candra Kirana.
"Sihir itu hanya akan hilang jika kau menemukan cinta sejatimu,"seru penyihir.
Sementara itu, di sebuah desa, seorang nenek sedang mencari ikan. Saat ia mengambil jaringnya, ia menemukan seekor keong emas. Karena keong itu terlihat sangat cantik, nenek itu pun membawanya pulang.
Keesokan harinya, si nenek kembali mencari ikan. Ia selalu bekerja dari pagi hingga sore, namun kadang-kadang tak mendapatkan uang. Kasihan sekali si nenek.
Saat si Nenek pergi bekerja, keong emas berubah menjadi Candra Kirana. Untuk membalas budi sang nenek, Candra Kirana pun membersihkan rumah nenek itu. Ia juga memasak makanan yang enak untuk si Nenek.
Saat pulang, alangkah terkejutnya si Nenek. Ia mendapati banyak makanan di meja makannya.
"Siapakah yang melakukan ini semua?" ucap si Nenek.
Hari-hari berlalu. Setiap hari, sepulang bekerja, si Nenek selalu mendapati rumahnya sudah bersih dan ada banyak makanan di meja makannya. Ia ingin tahu, siapa yang melakukan itu semua. Maka pada suatu hari, ia pura-pura pergi bekerja. Ia mengintip di balik jendela. Si Nenek melihat keong emas miliknya berubah menjadi seorang gadis cantik. Si Nenek pun langsung masuk ke rumahnya. Candra Kirana kaget, tetapi akhirnya ia menceritakan semuanya kepada si Nenek.
Sementara itu, Pangeran lnu Kertapatih ikut mencari Candra Kirana. Ia mencari sampai ke pelosok desa. Saat sedang kelelahan, ia hendak meminta minum kepada salah satu warga. Ia mendatangi salah satu rumah warga. Dan di sana, olala... Pangeran lnu Kertapatih mendapati Candra Kirana. Seketika kutukan nenek sihir itu pun sirna.
Akhirnya Pangeran lnu Kertapatih membawa Candra Kirana kembali ke istana. Si Nenek yang menolongnya pun dibawa serta. Kemudian, nenek sihir yang menyihir Candra Kirana, serta Dewi Galuh dihukum oleh Raja.
Candra Kirana dan Pangeran Inu Kertapatih pun menikah. Mereka hidup bahagia selamanya.
Pesan moral dari Legenda Keong Emas Singkat adalah Keburukan akan selalu dikalahkan oleh kebaikan. Yuk, semangat berbuat kebaikan!



 

Cerita Rakyat Bali : Legenda Kebo Iwa

Legenda Kebo Iwa


Pada jaman dahulu, di Bali, hiduplah sepasang suami istri yang sangat kaya raya. Akan tetapi mereka belum dikaruniani anak. Untuk itu, pergilah mereka ke pura untuk sembahyang dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai seorang anak. Mereka melalukan sembahyang setiap hari tanpa hentinya.
Setelah sekian lama waktu berlalu, si istri mulai mengandung. Suami istri itu pun merasa bahagia dan tak lupa mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Akhirnya, setelah sembilan bulan lamanya mengandung, lahirlah seorang bayi laki-laki.
Waktu pun berlalu. Sang istri mulai mengandung. Betapa bahagianya mereka. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki. Ternyata yang lahir bukanlah bayi biasa. Ketika masih bayi pun ia sudah bisa makan makanan orang dewasa. Setiap hari anak itu makan makin banyak dan makin banyak
Anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena itu ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau. Kebo Iwa makan dan makan terus dengan rakus. Lama-lama habislah harta orang tuanya untuk memenuhi selera makannya. Mereka pun tak lagi sanggup memberi makan anaknya.
Dengan berat hati mereka meminta bantuan desa. Sejak itulah segala kebutuhan makan Kebo Iwa ditanggung desa. Penduduk desa kemudian membangun rumah yang sangat besar untuk Kebo Iwa. Mereka pun memasak makanan yang sangat banyak untuknya. Tapi lama-lama penduduk merasa tidak sanggup untuk menyediakan makanan. Kemudian mereka meminta Kebo Iwa untuk memasak sendiri. Mereka cuma menyediakan bahan mentahnya.

Kebo Iwa memang serba besar. Jangkauan kakinya sangat lebar, sehingga ia dapat bepergian dengan cepat. Kalau ia ingin minum, Kebo Iwa tinggal menusukkan telunjuknya ke tanah. Sehingga terjadilah sumur kecil yang mengeluarkan air.
Karena kehebatannya, Kebo Iwa dapat menahan serbuan pasukan Majapahit yang hendak menaklukkan Bali. Maha Patih Majapahit pun mengatur siasat. Ia mengundang Kebo Iwa ke Majapahit. Ia kemudian meminta Kebo Iwa membuatkan beberapa sumur, karena kerajaan itu kekuarangan air minum.
Kebo Iwa menyanggupi tanpa curiga. Setibanya di Majapahit, ia menggali banyak sumur. Sungguh pekerjaan yang berat, karena ia harus menggali dalam sekali. Ketika Kebo Iwa sedang bekerja di dasar sumur, Sang Patih memerintahkan pasukannya menimbuni Kebo Iwa dengan kapur. Kebo Iwa sesak napasnya. Kemudian ia pun meninggal di dasar sumur.
Dengan meninggalnya Kebo Iwa, Bali pun dapat ditaklukkan Majapahit. Berakhirlah riwayat orang besar yang berjasa pada Pulau Bali
 


Tuesday, December 5, 2017

Gagak Yang Sombong

Gagak Yang Sombong 

Pada zaman dulu di tepi hutan, ada seekor burung gagak tua membungkus dirinya dengan bulu-bulu burung merak yang indah dan dia berjalan berkeliling pamer kepada burung gagak yang lain. Sebenarnya dia malah terlihat sangat lucu, karena bulunya yang hitam legam masih terlihat dibalik kostum bulu meraknya. Tetapi dia tetap berjalan angkuh dengan bangga dan memandang teman-temannya yang menonton dengan merendahkan. Burung yang sombong itu bahkan mematuk teman-temannya yang berani datang mendekat. "Tukang tipu!" teriak burung gagak yang lain sambil terbang ke dalam hutan.
Burung gagak tua itu yakin dia secantik burung merak, sehingga ia lalu mendekati sekumpulan burung merak yang sedang berjemur. Dia berpura-pura menjadi burung merak lalu memberi salam pada mereka. Tetapi para burung merak itu tidak tertipu. Mereka melihat bulu burung gagak yang hitam dibalik bulu warna warni. Mereka sangat marah pada kelancangannya sehingga ramai-ramai menghampirinya. Mereka berteriak dan mematukinya tanpa ampun, kostum warna warni gagak itu hancur tercabik cabik.
Kecewa dan sedih, si gagak mencari teman untuk menghibur hatinya. Tetapi teman-temannya juga sudah sangat kecewa padanya. "Tidak! Tidak!" teriak mereka. "Jangan kembali lagi pada kami. Kamu sudah memutuskan untuk menjadi burung merak. Sekarang kamu terima akibatnya." Mereka meneriakinya hingga ia terbang jauh.
Burung malang itu sekarang tidak punya teman. Dia dihukum karena berpura pura menjadi orang lain, dan bahkan mencibir teman temannya yang sederajat.

Pesan dari cerita ini adalah : jadilah dirimu apa adanya. Jangan bersikap sombong, tinggi hati, dan ingin merasa lebih baik dari yang lain dengan merendahkan mereka.
 

Monday, December 4, 2017

Rubah Yang Pintar

Rubah Yang Pintar

Pada suatu hari, seekor kucing rumahan bertemu seekor rubah dipinggir hutan. Kucing yang baru pertama kali melihat  rubah berpikiran bahwa binatang itu sangat pintar dan banyak pengalaman. Kucing pun menyapa rubah dengan ramah, "Selamat siang, Tuan Rubah ! Kau pasti binatang yang hebat. Buktinya, kau masih hidup sampai sekarang. Padahal, banyak pemburu yang mengincarmu? Bagaimana cara kamu melepaskan diri dari para pemburu dan anjing-anjing mereka?"
"Ah, dasar makhluk belang bodoh. Kau pasti sangat bodoh hingga menanyakan hal itu? Tentu saja aku bisa selamat dengan mudah dari incaran pemburu. Aku punya banyak keahlian. Tidak seperti kau. Kau pasti makhluk tidak berguna dan tidak punya keahlian, kan?" kata rubah sombong.

"Wah, benar. Kau memang binatang yang hebat. Aku percaya kau punya banyak keahlian. Kalau aku sih hanya punya satu keahlian," kata kucing mengagumi rubah.
"Memangnya apa keahlianmu?" tanya rubah sambil menyindir.

"Saat anjing-anjing pemburu mengejarku, aku bisa naik ke atas pohon untuk menyelamatkan diri," jawab kucing.

"Hanya itu?" kata rubah meledek kucing

"Aku punya ratusan keahlian dan siasat. Akulah binatang paling cerdik di hutan ini," kata rubah lagi.

Tiba-tiba, terdengar suara anjing pemburu dari arah desa. Dari kejauhan, terlihat ada empat ekor. Dengan cepat, kucing pun naik ke atas pohon dan duduk di dahan pohon paling tinggi.

Sementara, rubah berlari kencang untuk menghindari kejaran anjing pemburu. Tapi, secepat apapun rubah berlari, empat anjing pemburu berhasil mengepungnya.

"Pergunakan keahlianmu yang banyak itu!" teriak kucing pada rubah!

Tapi terlambat, anjing-anjing pemburu telah berhasil melumpuhkan rubah. Rubah yang sombong pun mati diterkam empat anjing pemburu.

Menyaksikan hal itu, kucing merasa kasihan kepada rubah. "Ah, Tuan Rubah. Ternyata ratusan keahlianmu tidak satu pun yang mampu menyelamatkanmu dari anjing pemburu. Andai saja kau bisa naik keatas pohon seperti aku, pasti akan selamat." kata kucing dengan suara pelan.



Sangkuriang ( Gunung Tangkuban Perahu )

Sangkuriang ( Gunun Tangkuban Perahu )

Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.
Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi.
Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya. 
Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.
Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah berubah total. Rasa senang Sangkuriang tersebut bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat.
Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hatan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kapalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.
Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.
Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Apabila Sangkuriang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. Syarat yang pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. Dan yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing.
Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.
Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira kalau hari sudah menjelang pagi. Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi.
Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

Batu Menangis

Batu Menangis

Disebuah bukit yang jauh dari desa, didaerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya. Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.
Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.

Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.

Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, “Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?”

Namun, apa jawaban anak gadis itu ?
“Bukan,” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku !”
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.
“Hai, manis. Apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?” “Bukan, bukan,” jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. ” Ia adalah budakk!”
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.

“Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia….”
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.
” Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu…Ibu…ampunilah anakmu..” Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut ” Batu Menangis “.

Demikianlah cerita berbentuk legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi. Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
 

Timun Mas

Timun Mas

Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.

Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni. “Hahahaha.... kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap”, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak”.

Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.

Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama Timun Mas.

Semakin hari Timun Mas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan Timun Mas.

Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan Timun Mas. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.

Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar Timun Mas menemui petapa di Gunung.
Pagi harinya mbok Sarni menyuruh Timun Mas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, Timun Mas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa. Kemudian Timun Mas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.

Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. “Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana Timun Mas?”, teriak si raksasa.

Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka Timun Mas keluar dari tempat sembunyinya. “Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!”, teriak Timun Mas.

Raksasa pun mengejarnya, dan Timun Mas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mengejar Timun Mas lagi. Lalu Timun Mas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlah pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.

Kemudian Timun Mas membuka kantong ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutan pun menjadi lautan yang luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Mas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasa pun mati.

Timun Mas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Mas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.


Saturday, December 2, 2017

Asal Mula Sungai Kawat Di Kalimantan Barat

Asal Mula Sungai Kawat Di Kalimantan Barat

Suatu ketika, nelayan itu keluar dari rumah hendak memancing ikan. Dibawanya dua buah pancing yang biasa digunakan. Tujuannya, satu pancing sebagai cadangan jika satu pancing lagi putus. Dengan semangat ia mendayung perahu menuju sungai. Ia begitu berharap bahwa hari ini merupakan hari keberuntungannya. Pancing diberi umpan dan dilemparkan ke salah satu bagian sungai yang menurutnya banyak terdapat ikan.
Matahari telah tinggi, teriknya hingga menembus kulit. Sungguh panas hari itu melebihi biasanya. Sudah lama ia menunggu, tetapi tidak didapatinya satu ekor ikan pun. Namun, ia tetap bersabar menunggu. Nelayan itu tetap meneguhkan hatinya untuk menunggu dan menunggu. Apapun yang terjadi, ia harus pulang ke rumah membawa ikan. Tekadnya kuat dan semangatnya membara untuk tetap bertahan.
Namun tanpa disadari, kailnya mengait sesuatu. Ketika diangkat ternyata kailnya menyangkut satu gulungan kawat. Ketika diperhatikan lebih dekat ternyata gulungan kawat tersebut terbuat dari emas. Sontak, rasa suka cita menyelimuti dirinya. Ia membayangkan betapa mahalnya harga gulungan kawat itu apabila dijual. Satu depa panjangnya telah ia tarik, ia semakin bersemangat. Agaknya nafsu serakah telah menguasai dirinya. Hari semakin gelap, ia terus menarik kawat yang seakan-akan tidak ada ujungnya. Sungguh aneh, dari dalam ada yang berkata.
"Sudah, cukuplah, putuskan saja kawatnya." Tetapi nelayan itu tidak mau menuruti suara itu. Ia terus saja menarik kawat emas itu, agar secepatnya menjadi kaya. Ia teringat kehidupannya selama ini yang serba kekurangan. Ia juga terbayang raut wajah keluarganya yang selalu tidak pernah merasa kenyang karena makan yang selalu kurang. Semangat membawa pulang kawat emas sebanyak-banyaknya menjadikan ia lupa diri. Nafsu serakah telah menguasai jiwanya. Sekali lagi, suara yang berasal dari dalam sungai menyuruhnya berhenti.
"Potong saja kawatnya, jangan diteruskan!"
Namun, nelayan itu sudah keras hatinya. Air pelan-pelan memenuhi perahu, karena tidak kuat menanggung beban gulungan kawat yang demikian banyak. Ia terus saja menarik kawat dari dalam sungai. Ia baru tersadar, ketika perahu hampir karam. Akan tetapi, kesadaran itu terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Nelayan tak sempat lagi menyelamatkan diri. Tidak berapa lama lagi, air telah memenuhi seluruh bagian perahu. Saat itu juga perahu si nelayan tenggelam ke dasar sungai untuk selamanya. Tidak ada orang yang bisa menolongnya. Hari telah gelap. Sunyi pun perlahan merayap. Nelayan itu tidak muncul lagi ke permukaan air. Ia mati sia-sia, karena menuruti nafsu serakahnya. Di kemudian hari, peristiwa tersebut menjadi pertanda bagi semua orang untuk menahan diri dari nafsu yang tidak bertepi. Sungai tempat tenggelamnya si nelayan diberi nama sungai Kawat. Itulah asal-usul nama Sungai Kawat.

Pesan moral dari Cerita Legenda Di Indonesia Asal Mula Sungai Kawat Di Kalbar adalah sifat serakah bukan hanya merugikan orang lain (keluarga), tetapi juga diri sendiri. Keserakahan sering membuat orang buta mata dan hatinya. Kekayaan dan kebahagian yang dicari, akhirnya menjadi petaka karena jiwa dipenuhi nafsu serakah yang tidak pernah ada puasnya.

Tupai Dan Ikan Gabus

Tupai Dan Ikan Gabus

Alkisah, hiduplah seekor tupai dan seekor ikan gabus di danau di daerah Kalimantan Barat. Di antara keduanya terjalin persahabatan yang erat.
Berat soma dipikul, ringan sama dijinjing. Apabila si Tupai kesusahan, si Ikan Gabus menolongnya. Begitu pula, jika si Ikan Gabus dilanda kesedihan, maka si Tupai menghibur hatinya.
Pada suatu hari si Ikan Gabus terserang penyakit. Si Tupai dengan setia menunggu temannya yang sakit. Beberapa hari belakangan ini, badannya begitu lemah, si Ikan Gabus tidak mau makan. Dengan kondisi lemah Si perut yang kosong, tentulah penyakit akan sulit disembuhkan. Si Tupai berusaha membujuknya untuk makan, meski sedikit saja. Rupanya, si Ikan Gabus hanya mau makan dengan hati ikan Yu.
Berat hati si Tupai mendengar permintaan si Ikan Gabus. Hal ini merupakan sesuatu yang mustahil. Ikan Yu termasuk binatang paling ganas di lautan. Ikan tersebut hanya hidup di lautan lepas. Menimbang-nimbang itu semua, hatinya sedih mengingat kondisi sahabatnya yang terus melemah. Akan tetapi, kehilangan satu sahabat merupakan kerugian yang tak bisa tergantikan dengan apapun. Akhirnya, ia pun pergi mencari ikan Yu.
Dengan segenap pikirannya, si Tupai mencari akal bagaimana caranya ia mendapatkan hati ikan Yu. Akhirnya ia menemukan ide untuk sampai di ke dalaman laut lepas dan bertemu dengan ikan Yu.
Si Tupai meloncat-loncat dari satu pohon ke pohon lainnya. Ia hinggap di pohon kelapa yang batangnya menjorok ke laut. Pelan-pelan digigitnya sebutir kelapa sampai tercipta lubang yang cukup besar. Setelah airnya habis, ia masuk ke dalam buah kelapa itu. Kemudian dari dalam kelepa, ia menggerogoti tangkai buah kelapa itu hingga terlepas. Segala ketakutan tidak dihiraukannya. Ia berani menghadapi bahaya besar demi kesembuhan sahabatnya.

Singkat cerita, buah kelapa itu jatuh tercebur ke laut lepas. Ombak laut yang berdebur dengan kerasnya mengempaskan buah kelapa itu sampai ke tengah, Seketika itu juga, seekor ikan Yu besar mengejar buah kelapa yang terombang-ambing oleh gelombang. Dengan rakus, ia menelan biji kelapa yang dikiranya makanan. Buah kelapa langsung masuk ke perut ikan tanpa dikunyah dahulu. Si Tupai keluar dari lubang kelapa dan mengigiti hati ikan Yu. Ikan Yu sangat kesakitan dan badannya terbawa arus menuju pantai. Setelah sekian lama menggelapar, ikan Yu tiba di pantai dalam kondisi kehabisan tenaga. Tidak lama kemudian ikan Yu pun mati.
Si Tupai berhasil keluar dari perut ikan Yu dengan membawa hati ikan Yu. Dengan penuh rasa suka cita dibawanya hati Ikan Yu ke tempat sahabatnya, si ikan Gabus. Ikan Gabus merasa senang dengan kedatangan Tupai yang membawa hati ikan Yu. Tanpa ditunggu lama ikan Gabus memakan hati ikan Yu yang terlebih dahulu disiapkan oleh si Tupai.
Sungguh ajaib, tidak lama setelah memakan hati Ikan Yu, si Ikan Gabus perlahan kondisinya membaik dan akhirnya sembuh seperti sediakala. Ia sangat gembira dan berterimakasih kepada sahabatnya. Kemudian ia meloncat-loncat
dalam telaga. Sungguh bahagia hatinya memiliki seorang sahabat sejati. Sejak scat itu, persahabatan mereka terjalin begitu kuat. Si Ikan Gabus berjanji akan membantu dengan sepenuh hati, apabila suatu saat si Tupai dilanda musibah yang sama.
Pesan moral dari Cerita Dongeng Singkat Persahabatan Tupai Dan Ikan Gabus adalah persahabatan sejati merupakan harta yang tak ternilai harganya. Kesetiaan dan kesungguhan hati menolong sesama, akan memberikan kebahagian. Maka, jagalah persahabatan dengan ucapan dan tindakan yang baik.

Congcorang Menghadang Kereta Raja

Congcorang Menghadang Kereta Raja

Suatu hari, Raja pergi mengunjungi sahabatnya. Ia menaiki kereta kuda bersama beberapa pasukan yang mengawalnya.
Namun, di tengah jalan, ia dikejutkan oleh kejadian yang tak biasa. Kereta kuda Raja dihadang oleh seekor congcorang. Kusir kuda pun menghentikan kudanya.
"Kenapa kau menghentikan keretanya?" tanya Raja.
"Maaf Raja, ada seekor congcorang yang menghadang kita. Sepertinya, ia menantang kita. Ia berdiri tepat di depan kereta kuda ini." jawab kusir kereta kuda.
"Apa itu congcorang?" tanya Raja. Selama ini raja sering dihadang oleh musuh. Tapi, ia belum pernah dihadang oleh seekor congcorang.
"Congcorang adalah sejenis serangga, Raja. Tubuhnya tegak seperti hendak melawan;." balas Kusir.
Beberapa prajurit Raja hendak melewati saja congcorang itu. Namun, Raja memerintahkan mereka untuk tetap diam. Raja berpikir sejenak tentang apa yang harus dia lakukan.
"Bagaimana Raja, apakah perjalanan kita ini akan terganggu hanya karena seekor congcorang yang kecil?" tanya seorang prajurit.
"Saya sedang berpikir. Jika congcorang itu adalah seorang prajurit, pasti dia adalah seorang prajurit yang gagah dan pemberani," jawab Raja.
Para prajurit merunduk mendengar ucapan Raja. Selama ini mereka memang pemberani. Tetapi, menurut mereka congcorang itu lebih berani. Ia berani menghadapi kereta kuda yang jauh lebih besar darinya. Para prajurit lalu berjanji akan menjadi prajurit yang lebih berani lagi. Apalagi untuk melindungi tanah air dan raja mereka. Mereka akan berani mempertaruhkan nyawa mereka.
"Lalu apa yang sekarang harus kita lakukan, Raja?' tanya Kusir.
"Kita terus jalan, tetapi menepi. Jangan sampai melewati congcorang itu. Biarlah kita yang mengalah,"titah Raja.
Kereta kuda dan semua prajurit berkuda lalu melewati tepian jalan. Mereka tak mau melawan congcorang itu, yang telah memberikan pelajaran berharga kepada mereka.
Akhirnya, rombongan Raja berhasil melewati congcorang itu. Mereka sangat senang, sebab dalam perjalanan mereka ada hikmah yang dapat diambil.

PESAN MORAL
Menjadi manusia berani itu harus. Tapi, jangan sombong.

 

Si Kancil Yang Sombong Dan Si Siput Yang Cerdik

Si Kancil Yang Sombong Dan Si Siput Yang Cerdik

Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.

Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai kancil !”, sapa si siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si kancil dengan sombongnya.

Siput: “Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha......., mana mungkin” ledek Kancil.
“Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.
Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si kancil memanggil.
Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku”, tanya si kancil. “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang”, jawab si siput. Kemudian si siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si siput.
Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput....sudah sampai mana kamu?”, teriak si kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si siput. Kancil terheran-heran, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama.”Aku ada didepanmu!”

Akhirnya si kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.
Betapa terkejutnya si kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai kancil, kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si siput. Dengan menundukkan kepala, si kancil menghampiri si siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si siput. “Iya, maafkan aku siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si kancil.



Legenda Batu Bangkai

Legenda Batu Bangkai


Setiap hari Andung Kuswara sibuk mencari kayu bakar untuk dijual, sedangkan ibunya mencari buah-buahan di hutan.
Andung ingin merantau agar nasibnya bisa berubah. Ia mempunyai bekal ilmu pengobatan. Sudah banyak tetangganya yang merasakan khasiat obat-obatan bikinan Andung.
"Ibu, izinkan aku merantau. Aku ingin kita menjadi kaya," kata Andung. "Apakah sudah kamu pikirkan matang-matang?" jawab sang ibu.
Andung mengangguk mantap. Dengan berat hati, ibunya melepaskan Andung merantau.
Selama perjalanan, Andung banyak mengobati orang-orang sakit yang dijumpainya. Upahnya ia gunakan untuk membiayai hidup selama merantau.
Sampailah Andung di Kerajaan Basiang. Penduduk kerajaan sedang kena wabah penyakit kulit. Andung segera mengobati setiap orang yang dijumpainya. Banyak orang berbondong-bondong datang meminta diobati oleh Andung.
Pada saat yang sama putri raja sedang sakit keras. Raja pun segera mengutus prajuritnya untuk meminta pertolongan Andung.
Andung terpesona dengan kecantikan sang putri. Andung pun bersungguh-sungguh mengobatinya. Sang putri menjadi segar dan sehat seperti sediakala. Kemudian, Raja menikahkan anaknya dengan Andung.
Sang Putri kemudian hamil. Ia meminta suaminya untuk mencarikan buah kesturi. Andung bersedia mencari buah tersebut meski sebenarnya sulit dicari. Ia pun pergi ke kampung asalnya, tempat tumbuhnya pohon kesturi.
Ibu Andung melihat anak kesayangannya. Ibunya segera berteriak memanggil anak kesayangannya, "Andung... Andung... ini aku ibumu, Nak!"
"Hei, Nenek Tua! Jangan sembarangan mengaku sebagai ibuku!"
Sang Ibu kaget mendengar jawaban Andung. Tanpa sadar, ibu Andung bergumam, "Ya, Tuhan, mohon keadilanmu terhadap semua ini."
Setelah itu, badai muncul dengan kuatnya disertai hujan yang lebat. Karena ketakutan, Andung spontan berteriak, "Ibu, maafkan aku!"
Sayang, permintaan maaf itu terlambat. Andung perlahan-lahan berubah menjadi batu. Konon sampai sekarang, batu tersebut masih ada di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.