Saturday, December 9, 2017

Kucing Yang Terlalu Serakah

Kucing Yang Terlalu Serakah

Hari itu masih sangat pagi, matahari pun belum menampakkan diri. Hewan-hewan masih banyak yang tidur dengan pulasnya. Namun di kejauhan nampak seekor kucing berjalan tergopoh-gopoh. Ia berjalan sambil membawa seember susu yang diletakkan di punggungnya. Sesekali ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepertinya ia takut ada teman yang mengikutinya. "Syukurlah tidak ada yang melihatku," kata si kucing dalam hati.

Ketika si kucing merasa tubuhnya capek ia berniat untuk istirahat. Ia mencari tempat yang aman dari pengamatan teman-temannya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti manakala ia berjumpa dengan seekor Kancil yang sedang memeluk sebatang pohon bambu. Si kancil berkali-kali mencoba menggigit pohon bambu, seolah-olah hendak memecahkan batang bambu, namun dilepaskan lagi. Setelah usahanya gagal, si kancil nampak bersedih dan menangis. "Hu hu hu hu....gagal lagi usahaku," demikian rintih si kancil di hadapan si kucing.
Si kucing merasa iba dan ikut bersedih melihat si Kancil menangis tersedu-sedu. Lalu ia berusaha menyapanya.

"Hei, kenapa kamu bersedih dan menangis, Kancil?" tanya si Kucing.

Si Kancil tidak menjawab, bahkan tangisannya semakin menjadi-jadi. "Huuuhuuuuhuuuhuuuuu." Sebenarnya tangisan si kancil di hadapan si kucing hanya pura-pura saja. Dia berniat memberi pelajaran si kucing yang terkenal serakah dan suka mencuri susu milik teman-temannya. Si kancil jengkel setiap kali mendengar laporan akan kecurangan si kucing kepada teman-temannya.

"Wah, si kancil benar-benar bersedih, nih," pikir si kucing. Kemudian si kucing meletakkan ember yang berisi susu di bawah pohon. Dan si kancil masih memegang erat-erat batang pohon bambunya.

"Hei, Kancil...kenapa kamu bersedih ? Bolehkan aku tahu permasalahanmu?"

"Heeemmm....wah senang sekali apabila kamu bisa membantuku, Kucing," jawab si kancil.

"Iya...tapi apa masalahnya?"

"Begini, kawan," kata si Kancil mulai menyusun siasat. "Malam tadi aku mendapat batang bambu ajaib yang jatuh dari langit. Meskipun bambu ini tidak mempunyai akar namun lihatlah daun-daunnya nampak hijau segar. Pasti di dalamnya ada air ajaib di 6 ruasnya yang membuat daun-daun bambu ini nampak masih hijau segar. Pasti air ajaib itu bisa membuat kita awet muda dan sakti. Oleh karena itu, aku berusaha memecahkannya. Namun usahaku gagal. Aku sedih, kawan."

"Wah, ada air ajaib yang bisa membuat awet muda? Aku harus bisa merebutnya dari tangan si Kancil," pikir si Kucing. "Dasar si Kancil bodoh. Seharusnya membuka batang bambu dengan benda runcing seperti cakarku ini. Mana bisa memecah batang bambu dengan giginya."

" Begini saja, Cil," kata si kucing. "Bagaimana kalau batang bambumu ini aku tukar dengan setengah ember susuku?"

"Hahhh! Ditukar dengan Setengah ember susu? Ogah yaaaa....enak aja satu batang bambu ajaib ditukar setengah ember susu. Kamu tidak adil. Kamu mau enaknya sendiri. Kamu serakah," kata si Kancil sambil terus memeluk batang bambunya.

"Tapi susu ini masih segar dan lezat lho....kamu tinggal minum saja...enakkk, Cil. Daripada kamu kesulitan memecahkan batang bambu itu? Serahkan saja padaku. Kamu bisa menimati setengah ember susu ini"

"Ogaaaahhhh.....gak mauuuu....tidak sudiiii....Sekali tidak mau ya tetap tidak mau," kata si Kancil pura-pura bertahan dan menganggap bahwa batang bambunya benar-benar sakti.

"Kalau begitu...bagaimana kalau aku minta hanya setengah saja batang bambumu dan kita tukar dengan setengah ember susuku. Nah...adil kan?"

"Ogaaahhh...enak saja bambu ini dipotong separo...kesaktiannya bisa hilang, Cing!"

Si Kucing makin penasaran dengan sikap si Kancil. Dirinya harus bisa memiliki batang bambu itu bagaimanapun caranya agar dirinya bisa tetap awet muda dan sakti. Kalau dirinya sakti tentu ia bebas berbuat apa saja kepada teman-temannya. Ia bebas memiliki susu milik siapapun tanpa takut terhadap teman-temannya. Dan akhirnya ia nekat ingin menukar seember susunya dengan batang bambu yang dimiliki si Kancil.

"Begini saja, Cil. Bagaimana kalau batang bambumu itu aku tukar dengan seember susuku ini?"

Si kancil pura-pura keberatan dengan usul si kucing. Padahal dalam hati ia merasa bahwa kali ini si kucing akan menemui batunya. Kali ini si Kucing akan menerima ganjaran akan keserakahan dan kelicikannya.

"Kalau itu maumu, aku sih setuju-setuju saja, Cing. Tapi kamu ikhlas nggak menukar susumu dengan batang bambu ini?" tanya si Kancil.

"Ikhlas, Cil. Ayo mana batang bambumu!" kata si kucing tidak sabar ingin memiliki batang bambu milik si kancil. Dan ia akan segera memecahkannya agar bisa segera meminum air ajaib yang ada di tiap ruasnya. "Aku akan menjadi Kucing Sakti dan senantiasa awet muda. Asyiiikkkk," kata si kucing senang.

Kemudian si kancil melepaskan batang bambunya. Setelah Ia meraih seember susu milik si Kucing, lalu ia pergi meninggalkan si kucing sendirian.

"Horeeee....aku akan menjadi kucing sakti.iiiii!" teriak si kucing. Kemudian ia mengeluarkan cakar-cakarnya. Batang bambu yang ada dihadapannya dicakar-cakar berkali-kali agar bisa pecah. Ia terus berusaha memecahkannya. Akhirnya, setelah dengan perjuangan yang keras ia berhasil memecahkan batang bambu di hadapannya. Namun ternyata air sakti yang diharap-harapkannya ternyata tidak ada. Ia hanya mendapati ruas-ruas bambunya kosong tidak ada apa-apanya. Sedangkan daun bambu yang masih hijau disebabkan pohon bambu masih baru dipotong.

"Haahhhh! Sialan...mana air sakti itu!!???" teriak si kucing.

"Dasar si Kancil pembohong...aku telah ditipunya. Aku telah ditipunya....," kata si Kucing sambil bergegas lari mengejar si kancil yang telah membawa seember susunya. 


Kisah Keledai Dan Kuda

Kisah Keledai Dan Kuda

Disuatu siang yang terik, Pak pedagang berjalan menyusuri perbukitan hendak pulang dari pasar. Di belakangnya berjalan seekor Keledai dan seekor Kuda peliharaannya. Mereka memang biasa diajak ke pasar untuk mengangkut dagangan atau belanjaan dari pasar.

Tampak si Keledai sudah kelelahan, dia berjalan sangat pelan karena di punggungnya penuh dengan barang bawaan yang tampaknya cukup berat baginya. "Kuda..!!! Tolong.... gantian bawakan barang ini, saya sudah sangat lelah dan tidak kuat lagi". keluh si Keledai kepada si Kuda. "Tidak!" kata si Kuda dengan tegas, dia menghentak-hentakkan kakinya sambil terus berjalan seolah mengejek. "Tolonglah!" pinta si Keledai, ia tersungkur karena kelelahan. Ia berusaha untuk berdiri dengan barang bawaan yang berat di punggungnya. "Tolong ambil beberapa bebanku saja, atau aku bisa mati karena beban yang terlalu berat ini." Si kuda menjawab dengan meledek, "Itu bukan tugasku, kenapa aku harus mengangkat barang bawaanmu itu?"
Mereka lalu tetap berjalan, berbaris di jalan kecil yang naik turun di atas pegunungan. Si kuda berjalan dengan nyaman sambil memakan rumput-rumput yang menghijau. Tetapi si Keledai berjalan dengan kepala tertunduk, ekornya bergoyang-goyang mengusir kumpulan lalat yang mengganggunya. Terengah-engah ia berusaha berjalan dengan beban yang begitu berat di punggungnya. Tiba-tiba keledai itu jatuh tersungkur untuk yang kedua kalinya. Lututnya terluka, tertindih di bawah tubuhnya yang terjerembab di tanah.

Pak Pedagang yang berjalan beberapa langkah di belakangnya, melihat apa yang terjadi dan dengan cepat menghampiri Keledai itu. Ia melonggarkan tali yang mengikat beban si Keledai dan dengan cepat meletakkannya di atas punggung si Kuda. Ia lalu mengikat kaki-kaki keledai yang jatuh itu menjadi satu dan lalu menaikkan keledai di atas punggung si Kuda. "Benar-benar Apes saya!" si kuda terengah-engah sambil menggerutu. "Aku tidak kuat lagi mengangkat beban dan tubuh keledai sekaligus! Jika aku tahu bakal begini jadinya, aku tadi pasti menolongnya... Mengangkat barang bawaan saja tanpa ditambah tubuh si jelek Keledai ini.... Huuuhhh...!! Tapi bagaimana aku bisa tahu akan begini jadinya?"
Pesan Moral Dongeng Kisah Keledai dan Kuda adalah : Penyesalan selalu datang terlambat, Berbuat baik tidak akan merugikan kita. dengan berbuat baik, bBisa jadi kita bisa memperoleh kebaikan yang lain atau bisa jadi kita terhindar dari hal buruk. Menunda kebaikan bisa jadi akan mendatangkan hal buruk pada kita. Seperti halnya si Kuda, ia tidak mau menolong si keledai akibatnya dia bukan hanya harus mengangkut barang bawaan si keledai, tapi dia juga harus mengangkut tubuh si keledai diatas punggungnya karena si keledai sudah tidak bisa berjalan. 

Bangau Pemalas

Bangau Pemalas

Suatu hari ada seekor anak bangau yang pemalas, kerjanya hanya tidur-tidur di bawah pohon yang rindang, lain sekali dengan anak bangau yang lainnya yang ingin sekali terbang seperti induk mereka. Anak bangau yang malas ini malah asyik dengan dirinya sendiri, malah dia tidak menghiraukan sama sekali ajakan temannya yang sibuk ingin belajar terbang. Si anak bangau pemalas ini sehari-harinya hanya memakan makanan yang diberikan induknya tapi dia sangat malas untuk mencari makan sendiri.

Hingga pada akhirnya si anak bangau yang pemalas ini datang ke salah satu anak bangau yang sedang belajar terbang. "Hei teman, kenapa kau sangat antusias sekali ingin terbang seperti induk kamu?" tanya si anak bangau pemalas.
 "Ya pastinya ingin bisa terbang tinggi dan bisa menembus awan yang putih diatas itu" kata si anak bangau lainnya.

 (Dongeng anak dan cerita anak yang asli dan original hanya di http://www.dongenganakindonesia1.com)

"Memangnya apa sih istimewanya awan putih diatas itu?" tanya si anak bangau pemalas.

"Awan itu indah sekali, jika kita terbang diantara awan itu, maka kita akan bisa melihat daratan dari atas dengan sangat indahnya" kata si anak bangau tadi.

"Memangnya kamu kenapa tidak mau belajar terbang?, apakah kamu sudah bisa?" tanya anak bangau itu lagi kepada si anak bangau pemalas.

"Aku bukannya sudah bisa terbang, aku malas saja, karena aku khan sudah punya sayap, sudah pasti aku bisa terbang nantinya" Alasan si anak bangau pemalas ini kepada temannya.

"Oke baiklah kalau begitu, kalau kamu yakin, tidak apa-apa, tapi induk ku bilang kita harus melatih sayap-sayap ini agar bisa terbang dengan sangat cepat ketika kita berada di air menangkap ikan, sudah ya aku mau latihan lagi" kata si anak bangau yang belajar terbang itu.

Si anak bangau yang rajin belajar terbang tadi meninggalkan si anak bangau yang pemalas.
"Hmm..kalau terbang juga aku pasti bisa, khan aku sudah punya sayap...bikin capek saja latihan terbang segala" gumam si anak bangau pemalas tadi.

Pada suatu ketika, si anak bangau pemalas ini sedang berjalan di rawa, tiba-tiba ada sekumpulan pemburu liar yang berada dari kejauhan. Mereka ternyata sedang berburu bangau yang ada di rawa tersebut.

Si anak bangau pemalas ini kaget dan gugup, teman-temannya yang sudah berlatih terbang, dengan sigap mengambil ancang-ancang untuk terbang menyelamatkan diri mereka dari pemburu liar tadi.

(Dongeng anak dan cerita anak yang asli dan original hanya di http://www.dongenganakindonesia1.com)

Akhirnya si anak bangau pemalas ini ditangkap oleh pemburu yang hendak membawanya ke kota untuk di jual. Nasib malang si anak bangau pemalas, dia tidak bisa menyelamatkan diri karena dia tidak mau belajar terbang seperti kawan-kawannya.

Demikian dongeng anak cerita anak bangau yang pemalas ini, semoga kita bisa mengambil hikmahnya dari dongeng diatas, bahwa walaupun kita sudah diberikan anggota tubuh oleh Tuhan YME. kita harus tetap mau belajar agar kelak apa yang kita pelajari di dunia ini bisa bermanfaat bagi kita dan bagi orang lain.


Friday, December 8, 2017

Kisah Dua Orang Sahabat

Kisah Dua Orang Sahabat 

Dahulu kala, ada dua sahabat bernama Fong dan Suta. Kedua sahabat itu sama-sama memiliki fisik yang cacat. Fong mengalanni kebutaan, sedangkan Suta tak bisa berjalan.
Fong selalu menggendong Suta ke mana pun mereka pergi. Suta selalu menjadi penunjuk jalan. Suatu hari, mereka pergi ke dalam hutan. Mereka ingin bertualang. Fong dengan setia menggendong Suta.
Hingga di tengah hutan, Suta melihat sebuah lubang di salah satu pohon. Suta mengira itu adalah sarang burung.
"Kau panjatlah pohon ini. Ada lubang di sana. Ambilah burung yang ada di sana agar nanti kita bisa makan dagingnya." ucap Suta.
Fong langsung naik ke atas pohon. Setibanya di lubang pohon, ia memasukkan tangannya ke
dalam lubang itu. Olala... rupanya yang ia dapatkan adalah seekor ular.
"Temanku Suta, apakah ini yang disebut burung?" tanya Fong sambil memegang seekor ular.
Suta tak menjawab. Ia takut Fong akan terjatuh jika tahu itu adalah ular. Tiba-tiba, ular itu menyemburkan bisanya ke mata Fong. Ajaib, mata Fong bisa melihat kembali. ia melihat ular yang dipegangnya.
"Kau membohongiku, Suta! Rupanya ini adalah sarang ular," seru Fong. Fong melemparkan ular itu ke bawah, hampir mengenai Suta.
Melihat ular itu di depan matanya, Suta sungguh ketakutan. Ia berdiri dan lari terbirit-birit. Ia tak menyadari bahwa ternyata ular itu telah membuat dirinya berjalan, dan bahkan bisa berlari.
Saat menyadari hal itu, mereka berdua sangat bahagia. Fong tahu, Suta tak mungkin berniat mencelakakannya dengan membiarkannya ke sarang ular.
"Maafkan aku sahabatku. Aku pikir itu sarang burung, tapi rupanya sarang ular," ujar Suta.
"Ya, aku tahu itu. Aku hanya panik saat aku tahu bahwa yang aku pegang adalah seekor ular," jawab Fong.
"Semua itu justru menyembuhkan kita. Kau kembali bisa melihat, dan aku sekarang bisa berjalan," seru Suta.
Mereka berdua tertawa bersama. Sungguh persahabatan yang indah. Mereka pun kembali ke rumah mereka. Tapi, kini Fong tak lagi menggendong Suta. Mereka berjalan beriringan, bersama. Bahkan beberapa kali mereka menari senang di antara pepohonan.

Pesan moral Cerita Dongeng Dunia Persahabatan dari adalah sahabat akan selalu ada saat suka maupun duka.

Kisah Kupu-Kupu

Kisah Kupu-Kupu

  
Di salah satu desa para nelayan, hiduplah seorang wanita tua. Wanita itu hidup sendirian di rumahnya. Ia sangat menyukai bunga. Ia memiliki kebun bunga yang indah. Bunga-bunga itu setiap hari mekar.
Wanita tua itu senang merawat kebun bunganya. Ia juga sangat baik. Siapa saja yang meminta bunga padanya, pasti akan dia beri. Para nelayan menyukai wanita tua itu. Tak jarang para nelayan datang ke rumah perempuan tua itu. Mereka membawa banyak ikan untuk perempuan tua tersebut.
"Aku ingin menukar ikan-ikan yang aku dapatkan dengan sekuntum mawar yang kau tanam," ucap salah satu nelayan.
Wanita tua lalu memberikan beberapa kuntum mawar. Alangkah senangnya hati nelayan itu. Ia pulang dengan membawa beberapa tangkai mawar.
Pada malam hari, rumah wanita tua terlihat terang benderang. Para nelayan percaya bahwa wanita tua itu adalah seorang penyihir. Tentunya penyihir yang baik hati. Bahkan beberapa nelayan pernah melihat seorang perempuan cantik di rumah wanita tua itu.
"Di sana ada perempuan cantik dan beberapa manusia kerdil." ucap salah satu nelayan.
Meskipun begitu, penduduk tetap menyukai wanita tua itu. Toh wanita tua itu sangat baik kepada mereka. Hingga datanglah sepasang suami istri ke kampung nelayan. Mereka berdua sangat menyukai keindahan. Namun, mereka memiliki tabiat buruk. Mereka suka sekali mengejek hal yang dianggapnya tak indah.
"Aku mendengar ada rumah perempuan tua yang rumahnya dipenuhi dengan mawar yang indah. Apakah kau tahu, di mana rumahnya?" tanya sang suami kepada seorang nelayan.
Nelayan itu menunjukkan rumah wanita tua. Benar saja, di sana ada banyak sekali mawar yang tumbuh dengan indah.

"Indah sekali mawar-mawar itu, Suamiku. Aku ingin memetiknya beberapa tangkai." ujar sang istri.
"Petiklah semaumu," jawab suaminya. Mereka bahkan tak meminta izin terlebih dahulu kepada wanita tua pemilik rumah.
Sepasang suami istri itu berhasil memetik banyak bunga di sana. Beberapa saat kemudian, wanita tua keluar dari rumahnya. Melihat bunga miliknya hampir habis, wanita tua itu pun marah.
"Berani-beraninya kalian memetik bungaku tanpa izin." seru si wanita tua.
Sepasang suami istri itu menoleh. Melihat wanita tua, mereka justru menertawakannya.
"Bunga mawar ini tak cocok untukmu yang sudah tua," balas istrinya.
Wanita tua itu semakin marah. Ia lalu mengambil tongkat sihirnya. Ia menyihir sepasang suami istri itu menjadi kupu-kupu. Itulah asal-usul kupu-kupu.

Pesan moral: Kisah Kupu-Kupu adalah hormati selalu orangtua. Jangan sampai berkata kasar dan melukai hatinya.

Asal Mula Nama Kota Balikpapan

Asal Mula Nama Kota Balikpapan

Menurut cerita rakyat yang diceritakan secara turun temurun di kalangan masyarakat Kalimantan Timur, sejak tahun 1700 an di tanah Pasir sudah ada sistem pemerintahan kerajaan yang sangat teratur. Di bawah pemerintahan kerajaan tersebut, rakyat hidup sejahtera. Kekuasaan raja yang memimpin pada waktu itu sangat luas, membentang hingga ke bagian selatan. Daerah tersebut merupakan sebuah teluk yang kaya akan hasil laut, dan pemandangan disana pun sangat indah. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di sepanjang teluk hidup sebagai nelayan dan petani yang sangat makmur.

Sultan yang memerintah kerajaan pada waktu itu adalah Sultan Aji Muhammad. Sultan mempunyai seorang putri bernama Aji Tatin. Putri tersebut menikah dengan Raja Kutai. Kepada ayahnya, Aji Tatin meminta warisan untuk masa depannya. Sultan Aji Muhammad kemudian memberikan wilayah teluk yang saat itu memang belum memiliki nama.

Pada suatu hari, ketika orang-orang yang bertugas mengumpulkan upeti dari rakyat untuk Aji Tatin sedang naik perahu, datanglah angin topan yang dahsyat. Upeti dari rakyat yang sedang mereka bawa saat itu berupa papan dengan jumlah yang sangat banyak. Karena merasa tidak mampu untuk melawan badai, para pendayung perahu tersebut berusaha merapat ke pantai. Namun, karena gelombang yang sangat besar dan angin topan tersebut, perahu pun terhempas ke sebuah karang. Alat untuk mendayung (tokong/galah) pun patah dan perahu pun karam. Panglima Sendong yang memimpin rombongan tersebut dan semua anak buahnya meninggal.

Jadi, menurut legenda atau cerita rakyat Kalimantan Timur ini, nama Balikpapan diambil dari kejadian saat perahu yang berisi papan terbalik karena diterpa badai. Sedangkan pulau karang yang tertabrak oleh perahu hingga karam kini dinamakan Pulau Tukung.

 

Thursday, December 7, 2017

Singa Dan Gembala

Singa Dan Gembala

Seekor singa yang sedang berjalan-jalan di hutan tiba-tiba menginjak duri yang kemudian menancap di kakinya. Tidak lama kemudian seorang Gembala lewat. Si Singa menunduk, dan menggoyangkan ekornya perlahan, sambil menunjukkan kakinya yang tertancap duri itu, seakan-akan ingin berkata "Aku mohon, tolonglah aku." Gembala yang pemberani itu lalu mendekat dan memeriksa kakinya. Dia menemukan duri yang menancap itu, lalu mencabutnya dengan hati-hati. Si Singa merasa lega karena duri yang menyakitkan itu sudah hilang. Dia lalu melangkah kembali ke dalam hutan.

Beberapa bulan kemudian, si Gembala mendapatkan masalah. Dia ditahan karena dituduh melakukan kejahatan yang sebenarnya tidak pernah dilakukannya. Dia lalu akan dihukum mati, dengan cara "dimasukkan ke kandang singa yang ganas." Tapi ketika si Gembala dimasukkan ke dalam kandang singa, singa itu tidak menyerangnya. Singa itu bahkan mendekati si Gembala, dan menaruh kakinya di pangkuannya. Ternyata singa itu adalah si Singa yang pernah ditolongnya dengan mencabut duri dari kakinya.

Kejadian yang aneh itu beritanya menyebar ke seluruh kerajaan. Bahkan, sang Raja juga mendengar tentang kejadian itu. Dia lalu memerintahkan supaya si Singa dilepaskan kembali ke hutan, dan si Gembala dibebaskan dari hukuman.

Pelajaran yang dapat diambil dari dongeng ini: Kebaikan akan mendapatkan kebaikan sebagai balasannya.
Dongeng untuk anak ini diadaptasi dari fabel klasik karya Aesop berjudul "The Lion and the Shepherd." Dongeng pendek ini diceritakan kembali dan ditulis oleh Ayunda.