Legenda Batu Bangkai
Andung ingin merantau agar nasibnya bisa berubah. Ia mempunyai bekal ilmu pengobatan. Sudah banyak tetangganya yang merasakan khasiat obat-obatan bikinan Andung.
"Ibu, izinkan aku merantau. Aku ingin kita menjadi kaya," kata Andung. "Apakah sudah kamu pikirkan matang-matang?" jawab sang ibu.
Selama perjalanan, Andung banyak mengobati orang-orang sakit yang dijumpainya. Upahnya ia gunakan untuk membiayai hidup selama merantau.
Sampailah Andung di Kerajaan Basiang. Penduduk kerajaan sedang kena wabah penyakit kulit. Andung segera mengobati setiap orang yang dijumpainya. Banyak orang berbondong-bondong datang meminta diobati oleh Andung.
Pada saat yang sama putri raja sedang sakit keras. Raja pun segera mengutus prajuritnya untuk meminta pertolongan Andung.
Andung terpesona dengan kecantikan sang putri. Andung pun bersungguh-sungguh mengobatinya. Sang putri menjadi segar dan sehat seperti sediakala. Kemudian, Raja menikahkan anaknya dengan Andung.
Sang Putri kemudian hamil. Ia meminta suaminya untuk mencarikan buah kesturi. Andung bersedia mencari buah tersebut meski sebenarnya sulit dicari. Ia pun pergi ke kampung asalnya, tempat tumbuhnya pohon kesturi.
Ibu Andung melihat anak kesayangannya. Ibunya segera berteriak memanggil anak kesayangannya, "Andung... Andung... ini aku ibumu, Nak!"
"Hei, Nenek Tua! Jangan sembarangan mengaku sebagai ibuku!"
Sang Ibu kaget mendengar jawaban Andung. Tanpa sadar, ibu Andung bergumam, "Ya, Tuhan, mohon keadilanmu terhadap semua ini."
Setelah itu, badai muncul dengan kuatnya disertai hujan yang lebat. Karena ketakutan, Andung spontan berteriak, "Ibu, maafkan aku!"
Sayang, permintaan maaf itu terlambat. Andung perlahan-lahan berubah menjadi batu. Konon sampai sekarang, batu tersebut masih ada di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
EmoticonEmoticon